PRESS RELEASE DISKUSI #1 WACANA KEMBALINYA DWIFUNGSI?

BEM FIS UNY, 19 Maret 2019 Bertempat di PKM lt.2 Fakultas Ilmu Sosial telah terselenggara Diskusi #1 yang bertemakan ‘Wacana Kembalinya Dwifungsi’. Latar belakang terselenggaranya diskusi ini adalah rencana pemerintahan Jokowi memperkerjakan perwira TNI aktif di kementrian dan lembaga negara yang dituding mengembalikan dwifungsi yang sempat berjaya di era orde baru. Hal ini diperkeruh dengan ditangkapnya Robertus Robert (Dosen Pend. Sosiologi UNJ) atas tuduhan merendahkan institusi TNI pada aksinya dalam menolak rencana pemerintah. Acara tersebut dihadiri sekitar 60 mahasiswa baik dari fakultas ilmu sosial, maupun fakultas lain. Menghadirkan pembicara dari Dosen PKNH, Halili Hasan dan Mahasiswa Ilmu Sejarah, Ahmad Efendi.


Konsep Dwifungsi digagas oleh A.H Nasution, pada era orde lama konsep ini bernama ‘Jalan Tengah’ namun baru direalisasikan pada masa Soeharto. Ungkap Ahmad Efendi, selaku pembicara pertama. Sedangkan Pak Halili Hasan memberikan pemaparan tentang alasan mengapa harus menolak Dwifungsi. Keterlibatan TNI dalam menentukan arah pembangunan bangsa dan negara dinilai sangat membahayakan, karena memiliki berbagai persenjataan. Hal itu bisa saja menyebabkan penyalahgunaan senjata dan memberikan peluang bagi TNI untuk melakukan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang. Sedangkan, supremasi sipil di Indonesia sendiri lemah. Penyebutan Supremasi Sipil secara jelas dicantumkan dalam UU Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI.


Tragedi POSO dan tragedi Tanjung Priok menjadi saksi betapa aparat keamanan yang begitu agresif dalam keikutertaan menentukan arah bangsa dan negara terkait dengan ideologi. Korban justru bahkan berhamburan dan berjatuhan, penyelesaian konflik dengan menggunakan alat senjata sangatlah tidak valid apabila masih diterapkan dwifungsi TNI di era modern ini. Untuk itu, dwifungsi TNI ini sangat ditolak secara besar-besaran. Penangkapan Robertus yang dilakukan oleh Polri ternyata memiliki tujuan agar TNI tidak menghakimi nya, maka dari itu Robertus ditangkap terlebih dahulu oleh polri sebelum TNI menghabisinya. Dari berbagai argumen yang muncul dalam diskusi ini, tawaran solusi sebelum benar-benar diberlakukannya dwi fungsi yaitu dengan bersama-sama menolak diberlakukannya dwi fungsi. Mengingat hal ini merupakan sebuah wacana, maka harus ada langkah konkret yang kita berikan untuk menyingkirkan wacana tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *