PRESS RELEASE DILIMA #5 “KULTUR PKKMB MASIH LAYAKKAH?”

BEM FIS UNY, Kamis, 12 September 2019 Bertempat di PKM Musik lantai 2 Fakultas Ilmu Sosial telah terselenggara Dilima #5 yang bertemakan “Kultur PKKMB Masih Layakkah?”. Latar belakang terselenggaranya diskusi ini dikarenakan kelayakan penugasan tentang PKKMB dan berbagai seluk beluk di dalam PKKMB. Kompenen dalam PKKMB, panitia yang bertugas, kelayakan tugas dan relevankah jargon pergerakan mahasiswa menjadi topik yang dibicarakan dalam diskusi malam itu. Acara tersebut dihadiri sekitar 30 mahasiswa dari fakultas ilmu sosial, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa semester tua serta beberapa panitia yang bertugas. Menghadirkan pembicara dari Ketua PKKMB FIS 2019, Mutawakkil Hidayatullah dan Abidatu Lintang Pradipta selaku Ketua Advokasi PKKMB FIS 2019.
Terkait PKKMB, sumpah mahasiswa dikumandangkan sebanyak tiga kali untuk membuktikan mahasiswa adalah agent of change. Jargon ini dihempaskan di GOR selama PKKMB berlangsung untuk menyuarakan semangat pergerakan bagi mahasiswa. Terkait masalah UPPA dan UKT mahasiswa baru ternyata sudah jelas paham tentang masalah ini, itu sebabnya selalu menjadi masalah yang selalu diungkit dalam manajemen aksi, ungkap Mutawakkil selaku Ketua PKKMB FIS 2019. Kemudian Abidatu menambahkan point-point yang menurutnya patut untuk diperbincangkan “Soal PKKMB bukan soal penugasan saja tetapi bagaimana implementasi PKKMB dan Impact pergerakan apakah hanya sebatas bernyanyi, lalu 4 tahun kuliah kalian gunakan untuk apa jika hanya mengabdi di kost. Kemudian ketua advokasi menambahkan beberapa pernyataan tentang kondisi internal dalam PKKMB FIS 2019. Tahun 2018 bahkan 2-3 tahun terjadi, panitia pengarah tidak boleh masuk venue, disitulah awal mula terjadinya gejolak permasalahan. Keadaan itu diperparah dengan kurangnya koordinasi antar panitia dan komponen yang tersekat-sekat. Advokasi dan panitia seakan-akan memiliki jarak, bak seorang raja dan rakyatnya. Dan lebih parahnya lagi, media center ternyata tidak dibekali apa-apa padahal PKKMB sendiri merupakan first impression untuk mahasiswa baru.
Birokrasi bahkan memotong hari PKKMB. Ada 5 hari untuk Universitas, dan 2 hari untuk Fakultas. Dimana sebenarnya ingin saya isi dengan game manajemen aksi, namun akhirnya saya pangkas. Yang terlaksana hanya talkshow ormawa, pungkas dengan jelas oleh Ketua PKKMB, Mutawakkil. Bahkan sampai sekarang pun, baik mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama tidak mengetahui secara pasti tentang fungsi sebenarnya media center dan advokasi. Media center merupakan jembatan antara pers luar dengan kegiatan PKKMB, salah penafsiran apabila media center sebagai info tanya-tanya tentang PKKMB. Bahkan panitia pemandu pun turut memberikan pernyataan tentang salahnya fungsi media center tersebut. Sedangkan advokasi berfungsi menjaga PKKMB agar sesuai aturan dan menampung berbagai aspirasi. Bahkan advokasi hampir menangani sekitar 20-30 keluhan mulai dari yang iseng sampai yang serius. Dan yang masih menjadi perdebatan adalah munculnya PK alias Petugas Kedisiplinan. Jika tidak dikasih PK, mahasiswa dan panitia akan ngelunjak. Menurut beberapa yang kontra, PK ini bisa disebut sebagai kekerasan verbal. Lantas hal ini masih menjadi pro kontra di kalangan mahasiswa FIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *