Departemen sospol

PAHLAWAN MEMBELOT
(Notulen Diskusi BEM FIS UNY 2018)

Hari/Tanggal : Senin/5 November 2018
Tempat : Ruang Cut Nyak Dien FIS UNY
Waktu : 18.30 – 21.30 WIB
Tema : Paradoks Reformasi ’98 : Pahlawan yang Membelot
Moderator :
Pemantik : Drs. Cholisin, M.Si., Benni Setiawan, M.Si. dan seluruh ketua Ormawa FIS UNY 2018
Jumlah peserta :
Hasil :

Bapak Cholisin
Era Reformasi diawali banyak paradox Era Reformasi yang memunculkan kebebasan intelektual. Amandemen merupakan sebuah kecerdasan intelektual, tapi tidak membedah pemikiran politik para pendiri bangsa. Sehingga sebagian pasal amandemen tidak sesuai kedaulatan pasal menggusur kedaulatan pasal (pasal 33 ayat 4).
Era Reformasi dipelopori oleh mahasiswa, namun dalam mengisi Reformasi tidak mempunyai konsep-konsep.
Menurut Bung Hatta :
Indonesia menang dalam hal national building (Sumpah Pemuda)
Indonesia menang dalam hal state building (Proklamasi)
Indonesia kalah dalam hal mewujudkan cita-cita nasional (alenia kedua)
Demokrasi di Indonesia saat ini liberal, bahkan lebih liberal dari negara asal demokrasi liberal tersebut. Demokrasi yang sebebas-bebasnya (individu yang menonjol). Masyarakat Indonesia sekarang ini tidak takut akan nilai-nilai luhur. Masyarakat Indonesia menjadi Homo Viden (manusia yang tidak melihat latar belakang suatu peristiwa) tapi lebih melihat apa yang hanya dilihatnya saja, tidak mengkaji dahulu.
Intelektual merupakan sebuah metode yang didasarkan pada fakta dan bersifat objektif. Oleh karena itu, mahasiswa harus merpikir kritis agar tidak terjadi pembusukan pikiran.
Hari Reformasi hanya menghasilkan perekonomian liberal, HAM semakin praktik semakin menjadi ( berbicara mengenai HAM namun tidak ada reaksi nyata).

Bapak Benny
Paradoks reformasi memiliki 2 buntut yang saling berhadapan, yaitu :
Dahulu ada aktivis yang idealis menyuarakan perubahan, namun sekarang bergabung ke partai (apakah itu paradoks? Kenapa aktivis tersebut saat ini tidak idealis dan kritis lagi? Apakah itu merupakan pahlawan yang membelot?
Laga pertempuran politik saat ini sudah berubah, kekuatan massa tidak di desa atau kota, tetapi seberapa banyak mempunyai robot yang bergerak. Demokrasi saat ini merupakan demokrasi virtual, pertentangan laga sudah berbeda, gelanggang pertempuran tidak nyata lagi, tetapi pertarungan melalui dunia maya yang harus dimenangkan.
Tetapkan kekuatan hari ini dan rancang kegiatan apa yang akan dilakukan hari esok. Reformasi tetap berjalan sampai saat ini.
Jadilah aktivis idealis yang menyerukan kebenaran, aktivis idealis saat ini adalah aktivis yang mengetahui peta Indonesia dan peta dunia, dapat berpikir jernih, dan budaya literaturnya kuat.
Menjadi aktivis yang idealis harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Peran pemuda ’98 dengan pemuda saat ini berbeda. Dahulu terdapat musuh bersama (Soeharto), saat ini terdapat dua kubu besar dan kita tidak dapat netral di tengah-tengah.
Apakah Budiman Sujatmiko dapat dikatakan pahlawan yang membelot?

Abeyasa
Siapakah pahlawan itu? Apakah orang yang berbicara atau semua mahasiswa?
Ada berapa tuntutan reformasi yang sebenarnya? Dan apakah sudah terpenuhi?
Dahulu akan mereformasi politik, namun kenyataannya saat ini tetap sama (UUMD3 merupakan politik identitas).
Makna membelot adalah jika yang dahulu aktivis namun sekarang justru mengingkari tujuan reformasi tersebut. Hal ini dikarenakan kita tidak paham dengan reformasi, tidak paham politik kita saat ini, peran kita seperti apa, dan apa yang akan kita lakukan.
Perwakilan Ilmu Administrasi Negara
Jika berbicara mengenai Reformasi 1998 itu gagal. Reformasi saat itu tidak memurnikan keadaan, Soeharto lengser namun kroni-kroninya tetap eksis, sehingga demokrasi Indonesia saat ini tidak jalan.
Demokrasi berdasarkan kekuasaan yang dimiliki (autokrasi), dahulu menghimpun suara rakyat, namun saat ini membela kepentingan sendiri.
Gerakan anti orde baru yang menginginkan reformasi 100%, sistem pemerintahan jika masih ditunggangi Soeharto dan antek-anteknya maka sebai-baiknya pemerintahan akan tetap buruk.
Fahrudin (Pendidikan Geografi)
Gagal paham mengenai Reformasi. Dalam gerakan politik banyak yang lupa bahwa mereka juga dari pihak elite politik.
Persoalan saat ini ialah pertarungan politik secara virtual. Kita terpusatkan pada sebuah pemilihan politik.
Bagaimana peran kita pada kondisi ini?

Bapak Cholisin
Menguatnya politik identitas dan intoleran adalah persoalan yang paling krusial. Demokrasi dan HAM berkembang, namun jika tidak didasari nasionalisme maka akan melahirkan demokrasi kebablasan.
Konsep kewarganegaraan inklusi yang ditunjukkan melalui multicultural untuk merekognisi perbedaan, ketika kaum marginal dipinggirkan maka hal tersebut yang diperjuangkan. Tetapi di Indonesia justru perbedaan yang ditonjolkan. Hal tersebut yang akan membahayakan Negara Indonesia.
Demokrasi di Indonesia saat ini tidak jelas, jika berbicara mengenai pahlawan yang membelot, seakan-akan 32 tahun jabatan presiden adalah hal yang wajar.
Gerakan Era Reformasi yaitu 4x ganti presiden dari Mei-Desember 1998 dengan 300 demonstrasi.

Bapak Benny
Dunia saat ini semakin berubah, namun mayoritas dari kita masih malas. Padahal literasi sangat diperlukan dalam dunia saat ini. Hal tersebut merupakan permasalahandalam demokrasi virtual.
Hoaks saat ini menjadi alat dalam politik, oleh karena itu kita harus menyikapi hoaks tersebut dengan pemikiran yang jernih dan kritis.
Untuk melawan demokrasi virtual maka kita harus menciptakan ruang public sendiri dan harus berpikir kritis.

Adil (DPM)
Idealisme kita telah terjual. Jika kita telah bertememu dengan circle yang lebih besar, idealism kita juga harus “tergusur”.
Sebenarnya seberapa kritis kita? Seberapa tahan kita untuk tidak “terbelai” oleh antek-antek ini?
Jika kita berbeda pendapat sampai dimaki-maki atau ditolak mentah-mentah, bagaimana sikap kita tentang hal itu?

Hari (Ilkom)
Apakah kehidupan mahasiswa saat itu sesangar itu?
Milenial itu kritis, tetapi berbeda kritisnya dengan aktivis pada masa itu. Pada zaman dahulu media mahasiswa hanya media cetak atau aksi. Saat itu mahasiswa jarang melakukan diskusi, karena pasti akan dicurigai. Namun saat ini diskusi bebas, tetapi sepi. Mahasiswa sudah kritis, namun minim dukungan.\nEfek media massa tidak terlalu besar, namun yang lebih besar adalah bagaimana cara kita menyadarkan teman-teman kita untuk kritis.\nMembelot sah-sah saja, apakah karena kepentingan atau yang membela kedaulatan rakyat.\nIlham\nEpigenetik : orang-orang akan berubah sesuai dengan lingkungannya. Pembelot jika mengikuti suatu aturan, maka kita akan melihat pada sistem berikutnya.\nArfathon\nMahasiswa dituntut tidak netral dalam proses perpolitikan, contohnya pemilihan presiden.\nKetika terdapat politik praktis apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa?\nBapak Cholisin\nGenerasi tua perlu diganti dengan generasi muda agar kritis. Namun generasi tua memiliki pengalaman yang lebih banyak.\nBerpikir kritis didasarkan pada konsep dan fakta.\nMahasiswa berpikir 3N, yaitu Niteni : mengkaji, Niru : berusaha menguasai konsep, Nambahi : mengkritisi.\nMemilih berarti tidak netral, namun kita dapat memilih mana yang lebih minim kesalahannya.\nNegara Indonesia adalah negara demokrasi. Rakyat adalah pihak yang bertanggungjawab kepada demokrasi. Maka jadilah warga negara yang baik, karena lebih baik bernegara pada negara yang tidak baik dibandingkan dengan tidak bernegara.\nJika menginginkan aktivisme, maka tempatkanlah ilmu sosial sebagai alasnya. Maka ilmu sosial tidak akan terlibas oleh kekuasaan.\nAka (Ilmu Sejarah)\nReformasi adalah buntut dari narasi kebangsaan.Gerakan Mahasiswa sebagai kelompok penekan karena selama ini mamasiswa selalu berada dalam perubahan masyarakat Indonesia, di luar rumah politik formal. Gerakan mahasiswa memperjuangkan rakyat, mahasiswa sebagai intermediary actor dimana mahasiswa menjadi lebih pintar dari penguasa dengan idealismenya.\nMahasiswa selalu idealis dan dekat dengan masyarakat karena mahasiswa adalah penyalur lidah rakyat.\nReformasi ’98 tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, tetapi juga dilakukan oleh elit politik.\nHima Pendidikan Geografi\nSaat ini sulit menemukan mahasiswa yang memiliki etos tinggi.\nPendidikan dijadikan sebagai jembatan untuk kritis.\nHima DIPSOS\nKetika kebenaran kita dilontarkan di depan publik maka akan terjadi yang namanya benturan pendapat.\nKita saat ini terlalu ‘romantis’ dengan peristiwa ’98.\nKita seharusnya dapat menjadi aktivis yang berani mengurangi kenyamanan-kenyamanan diri sendiri untuk menyamanan orang banyak.\nJadilah stakeholder pembangunan, jangan hanya menjadi subjeknya.\nPembelot dilakukan untuk kepentingan diri sendiri atau kepentingan masyarakat?\nClosing Statement Musuh kita saat ini adalah :\nKebodohan\nKemiskinan\nKurang percaya diridengan aktivis pada masa itu. Pada zaman dahulu media mahasiswa hanya media cetak atau aksi. Saat itu mahasiswa jarang melakukan diskusi, karena pasti akan dicurigai. Namun saat ini diskusi bebas, tetapi sepi. Mahasiswa sudah kritis, namun minim dukungan.
Efek media massa tidak terlalu besar, namun yang lebih besar adalah bagaimana cara kita menyadarkan teman-teman kita untuk kritis.
Membelot sah-sah saja, apakah karena kepentingan atau yang membela kedaulatan rakyat.

Ilham
Epigenetik : orang-orang akan berubah sesuai dengan lingkungannya. Pembelot jika mengikuti suatu aturan, maka kita akan melihat pada sistem berikutnya.

Arfathon
Mahasiswa dituntut tidak netral dalam proses perpolitikan, contohnya pemilihan presiden.
Ketika terdapat politik praktis apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa?

Bapak Cholisin
Generasi tua perlu diganti dengan generasi muda agar kritis. Namun generasi tua memiliki pengalaman yang lebih banyak.
Berpikir kritis didasarkan pada konsep dan fakta.
Mahasiswa berpikir 3N, yaitu Niteni : mengkaji, Niru : berusaha menguasai konsep, Nambahi : mengkritisi.
Memilih berarti tidak netral, namun kita dapat memilih mana yang lebih minim kesalahannya.
Negara Indonesia adalah negara demokrasi. Rakyat adalah pihak yang bertanggungjawab kepada demokrasi. Maka jadilah warga negara yang baik, karena lebih baik bernegara pada negara yang tidak baik dibandingkan dengan tidak bernegara.
Jika menginginkan aktivisme, maka tempatkanlah ilmu sosial sebagai alasnya. Maka ilmu sosial tidak akan terlibas oleh kekuasaan.

Aka (Ilmu Sejarah)
Reformasi adalah buntut dari narasi kebangsaan.Gerakan Mahasiswa sebagai kelompok penekan karena selama ini mamasiswa selalu berada dalam perubahan masyarakat Indonesia, di luar rumah politik formal. Gerakan mahasiswa memperjuangkan rakyat, mahasiswa sebagai intermediary actor dimana mahasiswa menjadi lebih pintar dari penguasa dengan idealismenya.
Mahasiswa selalu idealis dan dekat dengan masyarakat karena mahasiswa adalah penyalur lidah rakyat.
Reformasi ’98 tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, tetapi juga dilakukan oleh elit politik.

Hima Pendidikan Geografi
Saat ini sulit menemukan mahasiswa yang memiliki etos tinggi.
Pendidikan dijadikan sebagai jembatan untuk kritis.

Hima DIPSOS
Ketika kebenaran kita dilontarkan di depan publik maka akan terjadi yang namanya benturan pendapat.
Kita saat ini terlalu ‘romantis’ dengan peristiwa ’98.
Kita seharusnya dapat menjadi aktivis yang berani mengurangi kenyamanan-kenyamanan diri sendiri untuk menyamanan orang banyak.
Jadilah stakeholder pembangunan, jangan hanya menjadi subjeknya.
Pembelot dilakukan untuk kepentingan diri sendiri atau kepentingan masyarakat?

Closing Statement Musuh kita saat ini adalah :

  1. Kebodohan
  2. Kemiskinan
  3. Kurang percaya diri

Kompilasi Notulensi BEM FIS UNY 2018 (Apr-Nov)